Rabu, Desember 24, 2008

Guruku - Inteam


Wahai guruku yang dikasihi,
Engkaulah pelita diri ini,
Menerangi hati nurani,
Moga dirimu dirahmati

Ya Allah peliharalah guruku,
Agar dipimpin terus hambaMu,
Agar terhindar dari Neraka,
Moga dibukakan pintu Syurga

Tak terbalas jasamu
Berkorban jiwa raga
Mendidik anak bangsa
Jadi insan berguna

Keikhlasan di hati
Hulur bakti dan budi
Kau penyambung warisan
Ilmu cahaya hati

Ampunkanlah wahai guruku,
Kesilapan anak-anakmu,
Ku serahkan jiwa ragaku,
Agar terdidik nafsu liarku

Dengan izin Allahu Rabbi,
Engkaulah guru yang sejati,
Engkau bersabar mendidik kami,
Semoga dirimu diberkati

Datang dengan harapan,
Pulang bawa kejayaan,
Anugerah yang diimpikan

Lagu: Inteam, Cikgu Hasnol & Nada Syahdu
Lirik: Inteam & Halim Libya

Salah Persepsi Tentang Guru

Sedih rasanya kalau membaca blog yang ditulis oleh murid-murid. Persepsi mereka tentang guru masih sebatas orang yang mengajar dan memberi nilai. Bahkan lebih jauh lagi guru adalah orang yang kerjanya mengawasi muridnya dan memberi hukuman bila melanggar aturan sekolah. Jadi mereka patuh kepada gurunya karena rasa takut diberi hukuman, dipanggil orang tuanya ke sekolah, atau dikurangi nilainya. Bila mereka sudah lulus mereka merasa sudah bebas dari belenggu yang mengikat selama ini. Mereka bisa melakukan apa saja, berbuat sesukanya karena terbebas dari belenggu itu. Kalau saya berbuat begini kan saya sudah tidah diajar sama dia.Jadi saya tidak kena sanksi. Dia tidak bisa mengurangi nilai saya. Dia kan sudah bukan guru saya lagi.Jadi saya bebas dong ngomong apa saja.

Ketika secara resmi anak menjadi murid di sebuah sekolah, maka sejak itu pula guru menggantikan posisi orang tua di sekolah. Guru tidak membedakan ini anak si A atau si B. Semuanya adalah anaknya. Ikatan tersebut tidak bisa lepas begitu saja meskipun anak itu sudah lulus sekolah. Secara formal dia bukan lagi muridnya, tetapi secara nonformal dia adalah anak yang sudah dibesarkan. Jadi ikatan batin ini seperti layaknya orang tua dan anaknya.

Guru merasa bangga apabila murid-muridnya lulus dengan nilai yang membanggakan. Sebaliknya guru merasa sedih apabila muridnya mendapatkan nilai jelek. Bahkan guru dengan senang hati mengurusi masalah muridnya walaupun di luar jam sekolah. Dalam keadaan istirahat di rumah apabila ada murid yang bermasalah guru akan meluangkan waktunya menelpon orang tua untuk berdiskusi menyelesaikan masalah anaknya. Pekerjaan guru bisa dikatakan hampir tidak mengenal waktu dan tempat. Bukan hanya di sekolah tetapi di rumah pun masih menjadi guru. Semua itu dilakukan karena tanggungjawab moral guru terhadap masyarakat karena kalau ada kesalahan yang dilakukan muridnya di masyarakat maka guru yang akan kena getahnya.

Seorang guru akan merasa bahagia apabila murid-muridnya sukses menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang tidak dapat dicapai orang dirinya. Profesi guru akan tetap melekat meskipun muridnya sudah ada yang menjadi dokter, profesor, doktor, pengusaha, konglomerat, mentri, bahkan presiden atau MPR. Guru tetap guru tetapi guru tidak pernah merasa rendah diri walaupun muridnya memiliki kedudukan yang lebih darinya. Justru guru merasa bangga dan bahagia karena dia merasa berhasil mendidik muridnya menjadi orang yang sukses.

Tidak sedikit murid yang berkunjung ke sekolahnya hanya untuk bertemu dengan gurunya, bercerita tentang masa lalunya dan bercerita tentang kesusksesannya. Semua itu membuat guru semakin bahagia dan bersyukur ternyata muridnya adalah orang-orang yang pandai bersyukur dan tidak melupakan almamaternya. Rasanya semua jerih payah dan usaha keras mendidik muridnya tidak sia-sia.

Namun, ada juga murid-muridnya yang setelah lulus bukannya menunjukkan kebanggaan terhadap almamater yang sudah menempanya justru merasa menyesal dididik di sekolah itu. Bahkan ada juga yang membuat sedih guru-gurunya karena sikap dan perbuatannya bertolak belakang dengan apa yang dilakukannnya ketika di sekolah. Di depan gurunya menunjukkan sikap yang sopan, santun, patuh, hormat pada guru, dan menjadi teladan bagi murid lainnya, tetapi setelah lulus justru menunjukkan sikap yang sebaliknya. Ada juga yang ketika bertemu dengan gurunya menghindar, ada juga yang disapa oleh gurunya di mal merasa tidak kenal gurunya karena pakaiannya yang dikenakannya tidak sesuai dengan didikannya. Bahkan ada yang ditegur gurunya malah marah karena merasa sudah tidak diajarnya lagi. Kejadian semacam ini tidak banyak hanya beberapa kasus saja, tetapi itu cukup membuat sang guru bersedih.

Kebahagiaan bagi seorang guru adalah ketika melihat muridnya menjadi orang yang sukses. Oleh karena itu, wajar sekali kalau seorang guru selalu memantau perkembangan muridnya yang sudah lulus hanya untuk mendengar berita baik tentang muridnya. Namun, tidak jarang hal ini disalahpahami oleh muridnya. Guru dianggapnya ikut campur dalam urusan mereka dan dianggap mengganggu kebebasan mereka. Namun semua itu kembali kepada hati nurani kita semua. Guru hanya menginginkan kebaikan bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada guru yang membiarkan muridnya melakukan kesalahan di depan matanya. Seorang guru pasti akan mengingatkan muridnya yang melakukan kesalahan demi kebaikannya. Walaupun terkadang maksud baik itu ditanggapi dengan sikap yang kurang bersahabat, guru tetap bersabar dan mendoakan kebaikan bagi murid-muridnya.

Sumber:
http://imnis.multiply.com/journal/item/12/Salah_Persepsi_tentang_Guru

Sabtu, Mei 17, 2008

Kisah Guru Dengan Murid: Kualiti Pembelajaran Penting Pada Pelajar

Diceritakan pada masa dahulu tinggal tiga orang murid bersama dengan seorang tuan guru di sebuah perkampungan di pinggir hutan. Ketiga-tiga orang murid tersebut berguru dengan tuan guru tentang pelbagai ilmu yang merangkumi ilmu dunai dan akhirat. Setelah hampir genap tempoh perguruan, pada suatu hari mereka pun dipanggil oleh tuan guru untuk berjumpa dengannya.

Setibanya ketiga-tiga murid itu ke teratak tuan guru, maka si tuan guru bertanya kepada murid-muridnya, “Tahukah kamu apakah tujuan aku memanggil kamu sekalian?” Setelah mendengar soalan tersebut, lantas ketiga-tiga muridnya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu tuan guru memberikan seekor burung dan sebilah pisau kepada setiap seorang muridnya seraya berkata, “Tujuanku menyuruh kalian dating kerumahku pada hari ini adalah untuk melakukan satu tugasan. Di dalam sangkar ini, terdapat tiga ekor burung. Kamu ambillah pisau yang aku berikan ini dan sembihlah burung yang ada di dalam sangkar ini di tempat yang tiada sesiapa boleh melihat perbuatan kamu.”

Sebaik sahaja mendengar arahan tuan guru itu, tanpa berlengah-lengah lagi ketiga-tiga murid itu pun pergi meninggalkan tuan guru mereka. Masing-masing mencari tempat yang agak sulit untuk melaksanakan tanggungjawab yang diamanahkan itu.

Sejurus selesai menunaikan tanggugjawab, mereka kembali kepada tuan guru mereka dengan membawa hasil tugasan. Dua orang dari mereka membawa burung sembelihan dengan pisaunya sekali. Tetapi agak terkejut juga tuan guru itu apabila melihat seorang lagi itu hanya membawa pulang burung yang masih hidup.

Untuk pengesahan beliau bertanya kepada muridnya itu akan sebab tindakannya itu. “Mengapa kamu ingkar kepada perintahku? Bukankah aku menyuruhmu menyembelih burung ini? Tanya si tuan guru.

Dengan tenang muridnya menjawab, “Wahai guruku, aku tidak dapat dilihat oleh sesiapa sebagaimana yang kamu maksudkan itu. Oleh sebab itu, aku tidak dapat melakukannya.”

“Kamu tidak masuk ke dalam hutan yang tebal?” tanya guru itu menguji.

“Sudah, tetapi ke mana pun aku pergi, aku dapat rasai bahawa Allah Taala sentiasa memerhati gerak langkahku,” jawabnya spontan.

Si tuan guru itu berasa bangga setelah mendengar penjelasan itu. Ia berasa puas hati kerana di kalangan ketiga-tiga muridnya itu ada juga seorang muridnya yang berjaya menghayati isi pengajarannya. Murid ini memang beanr-benar faham ilmu yang disampaikan selama ini.

Kebijaksanaan Guru

Kisah yang dipaparkan di sini cukup untuk memberi input yang berguna kepada guru dan juga anak-anak murid sekolah. Kisah yang menampilkan kebijaksanaan seorang guru dalam menilai pencapaian muridnya ini boleh dijadikan iktibar kepada individu yang terlibat secara langsung dalam bidang pendidikan. Daya kreativiti seorang guru dalam sesi pengajarannya bukan sahaja dapat menarik minat murid untuk mengikutinya bahkan mampu menilai tahap kebolehan dan mengenal pasti potensi murid tersebut.

Pendekatan yang pelbagai di samping mengambil kira pengalaman yang sedia ada pada murid perlu dilaksanakan bagi menampilkan corak persembahan yang lebih menarik. Dalam hal ini, kepelbagaian latar belakang sosiobudaya dan amalan setempat seharusnya diberikan perhatian yang sewajarnya. Suasana interaktif antara guru dan murid sebagaimana yang dipaparkan dalam kisah di atas mapu mewujudkan suasana pembelajaran yang fleksibel. Pembelajaran yang tidak formal ini akan menimbulkan keseronokan dalam pembelajaran. Pendekatan seumpama ini dipercayai mampu membuka minda murid agar lebih kreatif untuk meneroka dan menjelajah pengalaman baharu. Di samping itu, pendekatan ini dapat memperkembangkan konsep kendiri ke arah pembentukan dan perwatakan yang positif.

Selain itu, kisah ini turut memaparkan sifat seorang guru yang seharusnya dijadikan contoh teladan. Guru yang baik sebegini sentiasa menitikberatkan persoalan pendidikan nilai murni walau dalam apa sahaja disiplin ilmu yang diajarkan. Inilah pendekatan menyeluruh, seimbang dan bersepadu yang perlu diaplikasikan oleh setiap warga pendidik. Sebenarnya pendekatan ini menepati sebagaimana yang digariskan dalam kurikulum pendidikan yang berteraskan Falsafah Peendidikan Kebangsaan.

Falsafah pendidikan yang digubal bermatlamat untuk melahirkan insane yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan ini sewajarnya dihayati oleh segenap guru. Hal ini demikian kerana guru berperanan sebagai agen pencorak masyarakat pada amsa hadapan.

Generasi masa hadapan inilah yang akan mewarnai suasana masyarakat pada suatu hari nanti. Andainya guru gagal melaksanakan tanggungjawab ini dengan amanah, maka nantikanlah saat kehancuran masyarakat tersebut. Pada waktu itu, masyarakat tidak lagi mampu membezakan antara perkara yang benar dengan perkara yang salah. Sebaliknya dengan ilmu yang disampaikan oleh guru yang berdedikasi ini, masyarakat dapat membolosi diri daripada belenggu kejahilan.

Teladan yang Baik

Memandangkan betapa besar tanggungjawab seorang guru di sisi masyarakat, Islam menguktiraf individu yang terliabt dalam kerjaya ini sebagai penyampai risalah dakwah Rasulullah s.a.w.. Selagi setiap guru itu masih berpegang pada metodologi “menyuruh kepada kebaikan dan menegah keburukan” yang dianjurkan oleh al-Quran, selagi itulah segala tugas yang dilaksanakannya dikira sebagai dakwah atau seruan ke jalan Allah. Orang yang berusaha kea rah itu bakal diganjari dengan pahala yang sama dengan pelaku kebaikan tersebut. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis baginda yang bermaskud:

“Sesiapa yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal yang baik, adalah baginya pahala sebanyak pahala orang-orang yang menurutinya, dengan tidak sedikit pun kurang pahala itu daripada pahala-pahala mereka dan (sebaliknya) sesiapa yang mengajak ke jalan mengerjakan sesuatu amal yang menyesatkan, adalah ia menanggung dosa sebanyak dosa orang-orang yang menurutinya, dengan tidak mengurangi sedikit pun dosa itu daripada dosa-dosa mereka.” (Riwayat Muslim, Abu Daud dan Tirmizi)

Selain itu, guru bukan sahaja perlu petah mengeluarkan hujah secara ilmiah terhadap sesuatu persoalan yang dibangkitkan, bahkan dia perlu bertindak selaku suri teladan kepada muridnya. Perilaku baik yang ditunjukkan oleh guru akan dicontohi oleh muridnya dan begitulah sebaliknya. Dalam hal ini, pepatah ada mengatakan, “apabila guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari”.

Oleh sebab itu, guru tidak boleh bersikap “seperti ketam mengajar anknya berjalan”, kerana apa yang diajarkannya itu tidak akan dapat memberi sebarang kesan kea rah pembentukan sahsiah. Selagi sahsiah peribadi guru itu sendiri tidak diperbaiki selama itulah niat baiknya tidak tercapai. Hari ini kedapatan pelbagai gejala sosial kian menular dalam masyarakat kita. Kemungkinan salah satu factor penyumbangnya ialah kerana kegagalan guru untuk menghayati keperibadian unggul yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w.. Apabila guru tidak dapat memaparkan contoh terbaik kepada muridnya, siapa lagi yang boleh diteladani.

Dalam kisah ini turut memaparkan kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menekankan kesepaduan antara teori dan amali. Hal ini dapat dilihat melalui perlakuan watak tuan guru yang cuba menguji aspek penghayatan tauhid yang terdapat dalam diri ketiga-tiga muridnya itu. Mungkin secara teorinya ilmu tentang ketuhanan sudah dipelajari, Allah Maha Melihat dan mendengar sudah selalu ditekankan. Tetapi bagaimana praktikalnya?

Dengan percubaan ini dapatlah dinilai sejauh mana mereka memahami ilmu itu secara teori dan praktikalnya. Secara tidak langsung, apa yang dilakukan oleh tuan guru ini dapat membuktikan betapa tahap penghayatan ilmu yang dimiliki oleh setiap murid berbeza. Mungkin dari segi eorinya, ketiga-tiga muridnya itu dapat menerima isi kandungan pengajarannya dengan baik, namun dari segi amali, hanya seorang muridnya sahaja yang benar-beanr mampu menghayati nilai tauhid yang tersirat.

Kesepaduan antara teori dengan amali perlu dititikberatkan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Ternyata ilmu yang diamalkan dalam kehidupan akan memberikan manfaat kepada pemiliknya. Sebaliknya ilmu yang tidak diamalkan umpama pokok tanpa buah yang tidak dapat memberikan sebarang nilai kepada tuannya.

Peperiksaan dan Ujian

Dalam sistem pendidikan ujian atau peperiksaan penting untuk menguji tahap penerimaan ilmu dalam kalangan pelajarnya. Inilah tujuan asal penilaian diadakan sebaik sahaja berlaku proses pengajaran dan pembelajaran. Bukan bertujuan mengasing-asingkan murid lalu wujud dua kelompok murid yang pandai dan murid yang kurang pandai. Oleh sebab itu, penilaian yang dilaksanakan di sekolah seharusnya bukan setakat dalam bentuk peperiksaan akhir tahun atau mana-mana peperiksaan utama. Hal ini demikian kerana penilaian berorientasikan peperiksaan ini hanya dapat menilai keupayaan murid menghafal isi kandungan pengajaran semata-mata.

Jadi, skopnya perlu diperluas kepada aspek penghayatan dan penguasaan terhadap ilmu yang dipelajari. Murid yang dilahirkan menerusi system persekolahan seharusnya bukan cemerlang dalam peperiksaan, tetapi perlu berpengetahuan luas dalam pelbagai bidang ilmu. Semoga dengan adanya bekalan dalam bentuk pengetahuan dan kemahiran ini, murid mampu memiliki daya saing yang tinggi. Nanti mereka mampu menghadapi cabaran era globalisasi yang bakal ditempuhi kelak.

Di samping itu, penilaian berupaya memberi ruang kepada warga pendidik untuk menilai kembali sejauh mana keberkesanan kaedah pengajaran dan pembelajaran yang dipraktikkan selama ini. Sekiranya terdapat kelemahan di sebalik pelaksanaannya, para guru perlu menjalankan muhasabah atas apa yang dilakukan sebelum ini. Seterusnya dia dapat merangka satu kaedah baharu yang lebih berkesan. Secara tidak langsung, hal ini mapu menjana kreativiti para guru bagi meningkatkan kualiti dan menghasilkan inovasi dalam proses pengajaran dan pembelajaran sesuai dengan era masa kini.

Guru masih ada masa untuk membuat sebarang perubahan demi kebaikan anak murid masing-masing. Oleh sebab itu, marilah sama-sama warga pendidik bertekad dan berazam untuk memberikan perkhidmatan yang berkualiti demi memenuhi aspirasi masyarakat.

Kamis, Mei 15, 2008

Salam Hari Guru: Menghormati Guru Sehingga Akhir Hayat


Salam Hari Guru saya ucapkan buat seluruh guru di Malaysia. Ucapan ini khas saya tujukan kepada bekas guru-guru saya semasa saya berada di sekolah menengah (SMK Taman Fajar, Sandakan, Sabah) dari saya tingkatan 1 sehingga tingkatan 5 (2002-2006). Semoga bekas guru-guru saya itu sentiasa berada dalam keredhaanNya, ditabahkan hati dalam menjalani waktu demi waktu sebagai seorang guru dan semoga bekas guru-guru saya itu nanti akhirnya dapat melahirkan insan-insan yang berguna dan hebat yakni pelajar-pelajar sebagai hasil didikan guru-guru yang hebat.

Sesungguhnya diriku ini amat sukar untuk melupakan jasa2 dan bakti guru2 ku. Diriku selalu terkenangkan segala kenangan yang pernah dialami semasa bersekolah dulu. Rasa rindu, sedih dan sebagainya masih lagi terasa dalam diri ini. Sesungguhnya diriku tidak dapat melupakan kenangan yang pernah dialami semasa bersekolah dulu. Dan sesungguhnya diriku ini tidak dapat melupakan seorang insan bernama guru.

Peranan dan tanggungjawab guru sangat besar nilainya. Profesion guru sebagai pendidik tidak boleh disamakan dengan profesion lain. Peranan guru dalam pendidikan adalah semata-mata mahu meliaht anak bangsa mereka berjaya pada masa hadapan.

Di tangan guru, terletaknya harapan untuk membentuk masyarakat beragama, berakhlak serta beriman dan berilmu, berteknologi dan berbudaya. Mereka mendidik kita menjadi sebaik-baik dan sempurna manusia yang akan memainkan peranan penting dalam pembangunan bangsa dan negara.

Oleh kerana itulah, guru harus dihormati. Tanpa guru, siapalah kita. Tanpa guru, kita tidakakan berada pada peringkat sekarang dengan jawatan yang tinghi, dipandang mulia, hidup bekerjaya dan sebagainya.

Orang yang menghina guru adalah orang yang tidak berfikiran waras dan matang. Ibu bapa tidak patut menyalahi mereka jika anak-anak melakukan kesalahan disiplin. Ibu bapa harus memeriksa kelakuan anak-anak sebelum menuduh guru.

Jika terserempak dengan mereka walaupun mereka sudah uzur, tegurlah dan beramah mesralah. Ini akan membuatkan mereka rasa dihargai, dihormati dan diingati. Tidak rugi berbuat demikian, lebih-lebih lagi yang menegur itu mempunyai kedudukan tinggi di mata masyarakat kerana tiba masanya mereka mersakan tidak sia-sia mencurahkan ilmu.

Hayatilah lagu ini...

Lilin Seorang Guru


Pernah langkah ku payah
Menuju ke destinasi
Kerana malam gelap
Dan bintang hilang kerdipnya
Menjadikan arah ku keliru
Ke timur atau ke barat

Bagai lilin membakar diri
Menerangi kegelapan hati
Kau curahkan bakti dan budi
Jasamu tiada berganti

Namun tanpa rasa payah
Dia memimpin tanganku
Melangkah satu persatu
Dan mencipta jejak impian
Menjadikan arahku jelas
Aku harus ke hadapan

Ohoo… aku kini rindu
Pada satu nama yang berjasa
Tuhan, beri kekuatan
Untuk mendidikku selamanya
Ku pohon restu kasih-Mu
Ampunkanlah guru-guruku

Semalam ku lihat dia
Di bibirnya ada kalimah
Yang bergetar saban waktu
Sambil tangan menggenggam lilin
Lilin yang tiada terpadam
Menerangi hidupku kini

Lagu: Cikgu Khairul, Mie Inteam & Munif Ahmad
Lirik: Cikgu Khairul, Mie Inteam & Munif Ahmad

Hayatilah juga lagu ini...

Guruku - Inteam

Wahai guruku yang dikasihi,
Engkaulah pelita diri ini,
Menerangi hati nurani,
Moga dirimu dirahmati

Ya Allah peliharalah guruku,
Agar dipimpin terus hambaMu,
Agar terhindar dari Neraka,
Moga dibukakan pintu Syurga

Tak terbalas jasamu
Berkorban jiwa raga
Mendidik anak bangsa
Jadi insan berguna

Keikhlasan di hati
Hulur bakti dan budi
Kau penyambung warisan
Ilmu cahaya hati

Ampunkanlah wahai guruku,
Kesilapan anak-anakmu,
Ku serahkan jiwa ragaku,
Agar terdidik nafsu liarku

Dengan izin Allahu Rabbi,
Engkaulah guru yang sejati,
Engkau bersabar mendidik kami,
Semoga dirimu diberkati

Datang dengan harapan,
Pulang bawa kejayaan,
Anugerah yang diimpikan

Lagu: Inteam, Cikgu Hasnol & Nada Syahdu
Lirik: Inteam & Halim Libya

Dengar lagunya di sini:
http://filemislam.blogspot.com/2008/05/guruku-inteam.html

Memoir Seorang Guru - Azizi Abdullah

'Memoir Seorang Guru diwarnai dengan pelbagai gejolak rasa yang menyentuh perasaan. Padat dengan mesej yang tersirat untuk dijadikan renungan bersama'.

Membaca 'Memoir Seorang Guru' novel terbaru Azizi Hj Abdullah, terbitan Alaf21, anda akan merasa kebencian disebalik kedegilan murid. Anda akan merasa keras hati seorang guru disebalik lemah lembut muridnya.

Anda akan merasa kata-kata keras, di sebalik kemanjaan murid. Anda akan menemui kekasaran di sebalik lemah lembut murid. Tetapi diakhirnya anda akan temui dialah yang memiliki kasih sayang melalui doa dan harapan, sehingga anda akan mengalir air mata dan berkata; begitukah guru kami.

Disyorkan, semua bekas murid penulis novel ini memiliki dan membacanya kerana di situ terhimpun kasih sayangnya dan kejayaan murid-muridnya dalam bidang kerani, jururawat, doktor, peniaga, penternak, petani, peguam, majestrit dan korporat.Itulah doa dan jasa seorang guru. Anda akan membaca pada akhir novel ini bersama lelehan air mata kerana bangga.

- Bekas Murid

abghalim berkata...


Novel yang MESTI dibaca oleh semua guru dan bakal guru.Novel yang berkisarkan pengalaman seorang ustaz yang berperang dengan perasaan semasa bertugas menjadi guru.Kekeliruan dengan keikhlasan dengan tugas beliau ,samada beliau seorang pendidik atau seorang guru yang makan gaji.
Ustaz juga mengutarakan isu keberkatan hasil gaji yang di perolehi.Isu ini cuma dalam bentuk kiasan dan masih boleh diterjemahkan oleh perbaca.

Isu KEBERKATAN ini membuka minda saya untuk terus memusahabah diri.Menilai balik hasil kerja saya adakah ianya baik dan berkesan.Tanggungjawap yang diamanahkan oleh majikan,adakah saya melaksanakan dengan jujur dan amanah?

Bila cukup bulan,semua hasil titik peluh saya dimasukkan kedalam akuan bank saya sebagai wang gaji atau imbuhan kerja.Pada majikan,itu imbuhan kepada nilai sebuah amanah dan kejujuran.


Bila amati dengan lebih mendalam lagi,saya bertanya pada diri?Jenis akuan bank yang saya miliki.Oh akuan perbankan Islam.Lapang dada seketika.

Bila saya menhalusi dengan lebih teliti lagi bank yang saya gunakan itu ada unsur ISLAM DAN RIBA.Persoalannya beranikah saya meminum air yang bersih tetapi dicampur dengan sesudu RACUN?Ibarat kata orang tua-tua,kerana nila setitik rosak susu sebelanga.

Alias,Midun,Sakinah dan Abdul Halim apakah mereka ini didik untuk orang yang berjaya?Bukankah mereka dididik untuk mengisi jawatan tinggi?Atau mereka ini akan jadi bekas murid yang berhemah tinggi.Atau jadi seperti anak-anak saudaraku yang bapanya berjawatan tinggi tapi rendah peribadi?

Pertemuan ustaz dan bekas muridnya yang selalu diilusi semua ditempat yang mulia.Murid yang dulunya memanggil ustaz dengan "ucetad" kini megah bersolat atas keterbukaan ustas.Alias,Midun dan Sakinah di tempat yang telah banyak berjasa pada nyawa dan kesihatan manusia.Pertemuan dengan Abdul Halim pada petang Sabtu di Masjid Kulim menjadi kesinambungan jalan cerita selanjutnya.

Harapan ustaz agar ILMU yang diturunnya berkat.Setiap muridnya diharapkan menjadi umat yang berguna pada Agama dan negara.Tak dinafikan ada juga segelintir menjadi sebaliknya.

Seorang bapa yang takut Kamariah mengalami stress sepertinya.Bapa yang mengharap Kamariah faham niat bapa.Bukan kerja guru itu tidak baik,tapi mampukah Kama menghadapinya dengan tabah.

Ustaz.....dari 1975~1980 bukan seperti novel itu.Ustaz yang menjawap "saya punya suka la.itu novel saya"bila aku bertanya pada tahun 1985,"kenapa mematikan watak Tuk Ya dengan kematiannya?"Jawapan ustaz disambut gelak ketawa.Aku berbangga kerana itulah ustazku yang selalu berjenaka.

Buat bekas murid yang mengenali ustaz,anda turut akan berilusi sekiranya membaca novel ini.Novel yang penuh dengan emosi dan perlu dihayati dengan keilmuan.Novel yang bersekitar di Daerah Kulim,akan membawa kita mengimbau kenangan dizaman persekolahan.

Kepada bakal guru dan semua pembaca,novel ini adalah "HEAVY DRAMA" yang terbaik dari USTAZ AZIZI HJ ABDULLAH.

salam
abghalim ULU YAM

Sumber:
http://aziziabdullah.blogspot.com/2007/11/memoir-seorang-guru.html

Insan Bernama Guru


Dalam dirimu bertakhta ilmu
yang tak terhitung
walaupun dibilang dengan
jari-jari tangan.

Berilah ilmu dari hati yang ikhlas
didik dan bentuklah insan
janganlah disia-siakan profesion guru
teruslah mendidik insan.

Terima kasih ku ucapkan untukmu guru
kerana kau telah mendidikku
menjadi insan berguna
akan ku cuba amalkan segala ilmumu.

Maafkanlah guru
jikaku melukai hatimu
sesungguhnya dirimu akan ku ingati
buat selama-lamanya
kaulah insan bernama guru.

M.A.Uswah,
Sandakan,
28 Januari 2006.

Rabu, Mei 14, 2008

Ciri Seorang Guru Yang Baik Serta Keutamaannya


* Guru adalah ikutan dalam kebaikan bagi pelajar-pelajarnya, uswah hasanah (contoh teladan) bagi murid-muridnya dan yang sentiasa mencintai dan menjaga mereka.

* Memberi penjelasan yang dimengerti ke atas ilmu yang diajarkannya, berusaha sekuatnya untuk memberikan manfaat yang banyak kepada murid-muridnya dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menerima ilmu dan pengetahuan.

* Guru tidak memiliki sifat kasar, berkata-kata kasar, pemarah dan kedekut terhadap murid-muridnya, bahkan dia adalah seorang yang penyayang dan pemeersatu murid-muridnya.

* Terampil dalam bidangnya, memiliki keistimewaan dalam ilmunya, mengetahui dan menguasai asas-asas perbahasannya.

* Banyak membaca dan mengkaji suatu permasalahan, sebagai sumber pengetahuan, mengetahui tamadun dan kebudayaan dalam lingkungannya permasalahan-permasalahan asas umatnya.

* Sentiasa menyedari apa yang dikatakannya, dapat menyentuh perasaan dan akal fikiran murid-muridnya, bersemangat dalam menyampaikan dan mengungkapkannya, jauh dari sikap dingin ataupun kasar.

* Sentiasa bekerja dengan teliti, tepat pada waktunya, rapi dan teratur dalam bekerja.

* Sikapnya jauh dari syubhat dan hal-hal yang meragukan, meninggalkan sifat-sifat yang tercela dan menghiasi perilakunya dengan akhlak yang mulia.

* Tidak berlebih-lebihan dalam bersenda gurau dan menjauhi perkataan-perkataan yang tidak baik, bahkan seorang guru adalah orang yang lemah lembut bicaranya, manis tutur katanya dan sentiasa jujur.

Petikan:

Menyingkap Rahsia Kejayaan karya Dr Aidh Abdullah al-Qarni terbitan Perniagaan Jahabersa